• Jelajahi

    Copyright © Media Online Dorobata News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Lebih Dari 15 Tahun Menyelamatkan Mushaf Al-Qur'an Rusak Dengan Dana Pribadi, Saatnya Pemerintah Hadir Mendukung Pengabdian Idris Sahidu

    Dorobata News
    Selasa, 23 Juni 2026, Juni 23, 2026 WIB Last Updated 2026-06-23T21:43:27Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini



    Sumbawa barat,Dorobatanews.net ~ Di balik kesederhanaannya, Idris Sahidu telah mendedikasikan lebih dari 15 tahun hidupnya untuk sebuah misi yang jarang dilakukan banyak orang, yakni menyelamatkan mushaf Al-Qur'an yang sudah rusak, usang, dan tidak layak pakai agar tidak berakhir di tempat sampah tanpa penghormatan. (24/6)


    Perjuangan tersebut dimulai sejak tahun 2011. Berangkat dari keprihatinannya melihat banyak mushaf Al-Qur'an bercampur dengan tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Idrus/yang sering disapa Aya Bima, mulai mengumpulkannya satu per satu. Ia menyusuri TPA di Kecamatan Maluk hingga berkeliling ke berbagai daerah Di setiap Provinsi di indoneaia ini,demi mencari mushaf-mushaf yang sudah tidak layak digunakan.


    Tidak hanya mengumpulkan sendiri, Idris juga menjalin kerja sama dengan para pemulung. Bahkan, ia membeli mushaf-mushaf Al-Qur'an yang rusak dari para pemulung dengan harga sekitar Rp2000 hingga Rp3.000 per kilogram agar kitab suci tersebut tidak berakhir menjadi sampah biasa.


    Menurut Idris, mushaf yang telah terkumpul kemudian diproses dengan cara dilebur hingga tulisan-tulisan Al-Qur'an hilang. Setelah berubah menjadi bubur kertas tanpa lagi menyisakan huruf-huruf Al-Qur'an, hasil peleburan tersebut kemudian dibuang sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian kalam Allah, sehingga tidak tercecer atau diperlakukan secara tidak semestinya.


    Yang lebih menginspirasi, seluruh aktivitas ini dilakukan tanpa bantuan dana dari pemerintah maupun lembaga tertentu. Saat diwawancarai awak media, Idris mengungkapkan bahwa biaya membeli mushaf rusak, biaya transportasi berkeliling daerah, hingga kebutuhan operasional lainnya berasal dari hasil penjualan kompos yang diproduksinya melalui pengolahan sampah organik.


    Keuntungan dari usaha tersebut sepenuhnya digunakan kembali untuk membiayai misinya menjaga kehormatan Al-Qur'an.

    Dedikasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun ini merupakan bentuk kecintaan yang luar biasa terhadap kitab suci. Di tengah keterbatasan ekonomi, Idris tetap istiqamah menjalankan pengabdiannya dengan mengorbankan tenaga, waktu, dan biaya pribadi, tanpa mengharapkan imbalan ataupun penghargaan.


    Melihat besarnya nilai sosial dan keagamaan dari kegiatan tersebut, sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius. Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Kementerian Agama Kabupaten, pemerintah daerah, serta lembaga-lembaga keagamaan diharapkan dapat turun tangan memberikan pembinaan, dukungan, maupun fasilitas agar kegiatan mulia ini dapat terus berlanjut secara lebih baik, tertata, dan menjangkau lebih banyak wilayah.

    Perhatian pemerintah bukan semata-mata untuk membantu seorang Idris Sahidu, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap upaya menjaga kehormatan kitab suci Al-Qur'an.


    Dengan dukungan yang tepat, gerakan ini berpotensi menjadi contoh nasional dalam penanganan mushaf Al-Qur'an yang rusak, sekaligus menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di Indonesia.

    DOROBATANEWS.NET memandang bahwa pengabdian seperti yang dilakukan Idris Sahidu merupakan aset sosial dan keagamaan yang patut diapresiasi. 


    Ketika seseorang mampu bertahan lebih dari satu dekade menjalankan misi kemuliaan dengan biaya sendiri, maka kehadiran pemerintah melalui Bagian Kesra, Kementerian Agama Kabupaten, serta instansi terkait bukan hanya menjadi bentuk kepedulian, tetapi juga wujud nyata dukungan terhadap pelestarian nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.


    Semoga kisah pengabdian Idris Sahidu menjadi inspirasi bagi banyak pihak, sekaligus mengetuk hati para pemangku kebijakan untuk hadir bersama masyarakat dalam menjaga kehormatan Al-Qur'an. Sebab, menjaga kemuliaan kitab suci adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya dipikul oleh satu orang yang bekerja dalam keterbatasan. (DT - Agus). 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini