Bima NTB. Dorobatanews.net ~ Dari tanah tandus yang ditempa panas matahari timur Indonesia, lahir kisah pengabdian yang menggugah hati. Di balik seragam loreng dan ketegasan dunia militer, tersimpan cerita haru seorang ayah sekaligus prajurit sejati asal Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, yakni Kapten Inf Dr. M. Guntur, S.H., M.H.
Bukan sekadar perwira TNI biasa, Kapten Guntur dikenal sebagai sosok disiplin yang keras dalam prinsip, namun lembut dalam kasih sayang. Dalam keterbatasan hidup dan kerasnya medan tugas sebagai abdi negara, ia berhasil membuktikan bahwa tempaan mental baja yang dibalut cinta seorang ayah mampu melahirkan generasi pejuang bangsa.
Hari ini, kebanggaan itu menjelma nyata.
Dua putra kandungnya resmi menjadi bagian dari pasukan elite Tentara Nasional Indonesia. Putra sulungnya, Lettu Pas M. Iqbal Fahriyansyah, S.Tr.Han., kini mengemban tugas di Batalyon Para Komando 466 Kopasgat, satuan elit kebanggaan TNI Angkatan Udara. Sementara sang adik, Letda Inf M. Akbar, S.Tr.Han., berhasil menembus ketatnya seleksi dan bergabung dalam Grup 1 Kopassus, pasukan elit legendaris TNI Angkatan Darat yang dikenal tangguh di berbagai medan operasi.
Bagi Kapten Guntur, keberhasilan kedua putranya bukanlah hasil instan. Semua lahir dari proses panjang penuh pengorbanan, air mata, disiplin, dan doa yang tak pernah putus.
Dalam ungkapan yang penuh haru, ia mengenang masa-masa ketika dirinya harus meninggalkan keluarga demi tugas negara. Namun di balik setiap kepergian itu, tersimpan tekad besar untuk menjadikan anak-anaknya lebih kuat dari dirinya.
"Dulu ayah pergi demi tugas negara, kini ayah lepaskan kalian untuk menjaga negara itu. Sedih raga berjarak, bangga jiwa berpadu," ungkap Kapten Guntur dengan mata berkaca-kaca.
Didikan keras yang selama ini diterapkan kepada kedua anaknya ternyata bukan tanpa alasan. Sebagai seorang prajurit yang memahami kerasnya dunia komando, Kapten Guntur sadar bahwa medan tugas tidak pernah memberi ruang bagi kelemahan mental.
"Setiap bentakan ayah adalah doa yang dibungkus disiplin. Ayah tahu, dunia komando tidak mengenal belas kasihan, maka ayah menempa kalian agar dunia tak mampu mematahkan kalian."
Kalimat itu kini menjadi bukti nyata bagaimana seorang ayah mendidik bukan hanya untuk sukses, tetapi untuk siap menghadapi segala badai kehidupan dan pengabdian.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan jauhnya Bima dari pusat pendidikan militer nasional, kedua putra daerah NTB itu mampu membuktikan kualitasnya. Mereka berhasil melewati kerasnya pendidikan akademi militer hingga akhirnya dipercaya mengenakan brevet satuan elite yang menjadi impian banyak prajurit muda Indonesia.
Keberhasilan Iqbal dan Akbar pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Bima dan Nusa Tenggara Barat. Dari daerah yang sering dipandang sebelah mata, lahir dua "elang muda" yang kini berdiri tegak sebagai penjaga kedaulatan bangsa.
"Iqbal di Kopasgat, Akbar di Kopassus. Dua elang muda dari NTB. Jadilah perwira yang dicintai bawahan, disegani lawan, dan selalu sujud kepada Tuhan," pesan Kapten Guntur penuh makna.
Tak hanya sebagai ayah, Kapten Guntur juga berbicara sebagai seorang senior kepada juniornya di dunia militer. Ia menanamkan nilai integritas dan kehormatan yang menurutnya jauh lebih penting daripada sekadar pangkat dan jabatan.
"Lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas. Jadilah prajurit yang lebih hebat dari ayahmu ini. Pangkat bisa dibeli, tapi kehormatan komando adalah harga mati."
Ucapan itu mencerminkan filosofi hidup seorang prajurit sejati: kehormatan adalah segalanya.
Kini, meski jarak medan tugas kelak akan memisahkan mereka, Kapten Guntur percaya darah perjuangan dari tanah Bima akan selalu mengikat hati mereka sebagai keluarga pejuang.
"Antara Bima dan medan tugas, jarak terbentang. Namun darah Bima yang mengalir di tubuh Iqbal dan Akbar membuat jarak itu terasa sedekat detak jantung seorang prajurit."
Di penghujung pesannya, Kapten Guntur menitipkan doa dan harapan besar kepada kedua putranya yang kini resmi menyandang kehormatan sebagai perwira TNI.
"Di akademi ini kalian dididik untuk tidak mengenal rasa takut, kecuali takut kepada Tuhan. Teruskan perjuangan, calon jenderal dari Bima. Ayah selalu berdiri di belakangmu, bangga sebagai orang tua dan hormat sebagai sesama prajurit."
Kisah keluarga Kapten Inf Dr. M. Guntur menjadi bukti bahwa pengabdian kepada bangsa tidak hanya diwariskan lewat nama, tetapi lewat keteladanan, disiplin, dan cinta tanah air yang ditanamkan sejak rumah. Dari Bima untuk Indonesia, lahirlah dua penjaga langit dan bumi NKRI. (DT - Jun).


