Warga melaporkan beberapa sumber air mulai menyusut, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini memicu kecemasan akan keberlanjutan air bersih di wilayah yang selama ini bergantung pada sumber alami. Di sisi lain, aktivitas pembukaan jalan dan eksplorasi dinilai memperburuk struktur tanah serta meningkatkan debu yang berdampak pada hasil pertanian dan kualitas udara.
Tekanan ekonomi juga dirasakan. Harga kebutuhan pokok di desa sekitar tambang disebut meningkat. Meski sebagian kecil warga memperoleh manfaat ekonomi, mayoritas lainnya menghadapi beban baru tanpa akses kerja yang memadai, memperlebar kesenjangan sosial.
Sorotan tajam juga diarahkan pada operasional helikopter tambang. Warga mengeluhkan kebisingan akibat frekuensi terbang tinggi dan ketinggian rendah yang melintasi permukiman. Dampaknya tidak hanya pada kenyamanan, tetapi juga mengganggu proses belajar mengajar di sekolah. Sejumlah siswa dilaporkan kesulitan berkonsentrasi, sementara komunikasi di kelas terganggu oleh suara bising.
Di tengah itu, kekhawatiran terbesar berkembang pada dugaan pengelolaan limbah tambang. Muncul isu di masyarakat terkait kemungkinan pembuangan limbah ke laut melalui sistem pipa. Jika benar tanpa pengawasan ketat, hal ini berpotensi mencemari ekosistem laut, merusak biota, dan mengancam mata pencaharian nelayan di pesisir.
Warga mendesak transparansi penuh dari perusahaan dan pemerintah terkait pengelolaan lingkungan, khususnya air dan limbah. Mereka juga meminta evaluasi terhadap operasional helikopter serta perlindungan nyata bagi ruang hidup masyarakat.
Situasi ini menegaskan bahwa kehadiran investasi tambang tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan. Di Dompu, masyarakat kini menghadapi dilema antara harapan ekonomi dan tekanan lingkungan serta sosial yang semakin terasa. Tekanan publik pun menguat. aktivitas tambang harus dikendalikan, transparan, dan tidak mengorbankan masa depan warga. (DT - 001).


