Perubahan suasana kawasan menjadi salah satu hal yang paling terlihat. Area yang sebelumnya relatif sepi dari aktivitas pengunjung pada akhir pekan, saat CFD berlangsung berubah menjadi ruang publik yang dipadati masyarakat.
Rekaman pelaksanaan CFD menunjukkan tingginya aktivitas warga, mulai dari olahraga, rekreasi keluarga, aktivitas anak-anak hingga transaksi di lapak-lapak UMKM.
Sekitar 80 lapak ikut berjualan dalam setiap pelaksanaan CFD. Sejumlah pedagang menyampaikan bahwa dagangan mereka bahkan dapat habis terjual dalam waktu sekitar dua jam.
Salah satu pelaku usaha mampu mencatat omzet sekitar Rp2,1 juta dalam satu kali pelaksanaan CFD.
Berdasarkan estimasi aktivitas transaksi dari sekitar 80 lapak dan kegiatan ekonomi lainnya yang muncul selama CFD, perputaran ekonomi diperkirakan mencapai sekitar Rp200 juta dalam satu kali pelaksanaan.
Angka tersebut menjadi menarik karena sebelum CFD rutin digelar, aktivitas ekonomi yang tercipta dari kegiatan tersebut praktis berada pada titik Rp0.
Dari Keramaian Menjadi Perputaran Ekonomi. Penggerak CFD Pantai Maluk, dr. Ali Praja Muda Kirana, mengatakan bahwa tujuan awal CFD adalah menyediakan ruang publik bagi masyarakat untuk berolahraga, berekreasi dan berkumpul. Namun dalam perkembangannya, kegiatan tersebut ternyata mulai memberikan dampak ekonomi secara langsung.
"Awalnya CFD ini sederhana. Kita ingin masyarakat punya ruang untuk olahraga, berkumpul dan menikmati akhir pekan. Tetapi ternyata ketika masyarakat datang, muncul pasar bagi UMKM. Pedagang mendapatkan omzet, kemudian mereka membeli bahan baku, membutuhkan transportasi dan berbagai kebutuhan lainnya. Di situlah mulai terlihat efek domino ekonominya."
Menurut Ali, fenomena tersebut menunjukkan bahwa kegiatan masyarakat dapat menjadi pemicu munculnya aktivitas ekonomi baru apabila dikelola secara konsisten dan berkelanjutan.
Dengan asumsi perputaran ekonomi sekitar Rp200 juta setiap minggu, secara sederhana nilai transaksi berpotensi mencapai sekitar Rp800 juta per bulan atau sekitar Rp10,4 miliar dalam satu tahun.
Namun, angka tersebut masih merupakan proyeksi berdasarkan estimasi perputaran ekonomi setiap pelaksanaan, sehingga diperlukan pendataan yang lebih sistematis untuk mendapatkan angka riil.
"Yang penting sekarang bukan hanya mengatakan CFD ramai. Kita ingin mulai mencatat datanya. Berapa pedagang, berapa omzet, berapa pengunjung dan berapa transaksi yang terjadi. Dengan data itu, dampak CFD terhadap ekonomi masyarakat bisa kita ukur secara lebih objektif," ujarnya.
Ali berharap CFD Pantai Maluk dapat terus berkembang sebagai ruang publik yang memberikan manfaat bagi masyarakat secara lebih luas.
"Kalau masyarakat sehat, ruang publik hidup, UMKM mendapatkan penghasilan dan ekonomi lokal ikut bergerak, berarti CFD memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan olahraga."
CFD Pantai Maluk. Sehat Masyarakatnya, Hidup Ruang Publiknya, Bergerak Ekonominya. (DT - Agus).


