Padahal, sebelumnya sekolah tersebut disebut-sebut telah dijanjikan akan memperoleh proyek rehabilitasi. Namun, hingga berita ini diterbitkan, pekerjaan yang dinantikan itu belum juga terealisasi.
Sejumlah ruang kelas di SDN 19 Kempo mengalami kerusakan berat. Atap yang rapuh, dinding yang retak, serta kondisi bangunan yang terus menurun menjadi ancaman serius bagi keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Proses belajar mengajar pun berlangsung di bawah bayang-bayang kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Ironisnya, persoalan ini bukanlah hal baru. Kondisi memprihatinkan SDN 19 Kempo telah diberitakan sejak tahun 2025 dan sempat mendapat perhatian publik.
Namun, memasuki pertengahan tahun 2026, belum terlihat adanya realisasi pembangunan sebagaimana yang pernah dijanjikan.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan proyek rehabilitasi akan dimulai.
Para guru berharap Pemerintah Kabupaten Dompu, Dinas Pendidikan, serta instansi terkait tidak lagi sekadar memberikan janji, melainkan segera mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan fasilitas pendidikan tersebut.
Pendidikan merupakan hak dasar setiap anak. Karena itu, siswa berhak memperoleh lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan layak, bukan ruang kelas yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan mereka.
Masyarakat juga mendesak agar persoalan SDN 19 Kempo dijadikan prioritas. Jangan sampai tindakan baru dilakukan setelah terjadi musibah akibat robohnya bangunan sekolah.
Wali murid meminta pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, dan seluruh pihak terkait segera memberikan kepastian mengenai pelaksanaan proyek rehabilitasi.
Keselamatan ratusan siswa dan para guru tidak boleh terus dipertaruhkan akibat lambannya realisasi pembangunan.
"Anak-anak datang ke sekolah untuk menuntut ilmu, bukan mempertaruhkan nyawa di dalam ruang kelas yang sewaktu-waktu bisa roboh." (DT - Agus).


